
pasaRpetani.com – Di balik foto-foto Instagram yang menampilkan hamparan hijau persawahan terasering Bali, kini tersembunyi konflik keras antara petani lokal dan industri pariwisata. Keindahan yang selama ini dijual sebagai “warisan budaya dunia” berubah menjadi arena perlawanan, setelah petani secara terbuka menutup sawah mereka dengan lembaran seng, merusak lanskap yang menjadi mesin uang pariwisata.
Aksi ini bukan tanpa alasan. Petani mengaku lelah menjadi ornamen hidup dalam industri yang terus tumbuh, namun tak pernah benar-benar menghidupi mereka.
“Sawah kami dijadikan objek wisata, tiket dijual, kafe berdiri, parkiran penuh, tapi kami tetap petani miskin. Kalau keindahan ini hanya menguntungkan orang luar, biarlah rusak,” ujar seorang petani dengan nada geram.
Subak Jadi Komoditas, Petani Terpinggirkan
Sistem subak yang selama ini dielu-elukan sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam justru dinilai petani telah direduksi menjadi sekadar jargon pemasaran. Di lapangan, petani menanggung beban terbesar: merawat sawah, menjaga aliran air, menghadapi wisatawan yang menginjak pematang, membuang sampah sembarangan, hingga merusak tanaman demi konten media sosial.
Sementara itu, keuntungan ekonomi mengalir ke pengelola tiket, pemilik restoran, kafe dengan pemandangan sawah, dan investor pariwisata yang tidak memiliki keterikatan langsung dengan lahan.
“Kami hanya diminta menjaga sawah tetap hijau. Kalau panen gagal atau rugi, itu urusan kami sendiri,” kata petani lainnya.
Seng sebagai Simbol Perlawanan
Penutupan sawah dengan seng menjadi simbol perlawanan paling ekstrem sekaligus paling efektif. Dalam hitungan hari, pemandangan yang biasanya dipromosikan sebagai “surga tropis” berubah menjadi bentangan logam yang menusuk mata.
Langkah ini memicu kegaduhan di sektor pariwisata. Pelaku usaha mengeluhkan turunnya minat wisatawan, sementara pemerintah daerah menghadapi tekanan untuk segera meredam konflik demi menjaga citra Bali.
Namun bagi petani, citra bukan lagi prioritas.
“Kalau keindahan hanya dinikmati wisatawan dan pengusaha, sementara kami tidak bisa hidup layak dari sawah sendiri, lalu untuk siapa kami bertani?” tegas perwakilan petani.
Pariwisata yang Melupakan Akar
Pengamat sosial menilai konflik ini sebagai dampak langsung dari model pariwisata Bali yang semakin eksploitatif. Alam dan budaya dijadikan produk, sementara pelaku utamanya—petani dan masyarakat adat—diposisikan sebagai latar belakang.
“Ini bukan konflik kecil. Ini akumulasi ketidakadilan struktural. Ketika dialog buntu, perlawanan simbolik seperti ini akan terus muncul,” ujar seorang akademisi pertanian dan pariwisata.
Peringatan Serius bagi Masa Depan Bali
Kasus ini menjadi alarm keras bahwa pariwisata berbasis alam tanpa keadilan sosial hanya akan melahirkan konflik. Jika petani terus dipinggirkan, keindahan terasering Bali tidak akan hancur oleh seng, tetapi oleh ketidakadilan yang dibiarkan tumbuh.
“Tanpa petani, tidak ada sawah. Tanpa sawah, tidak ada wisata terasering,” kata seorang petani singkat namun tajam.
Konflik ini bukan sekadar soal pemandangan rusak, melainkan pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya yang berhak menikmati hasil bumi Bali?

















