Penting Mana? Harga Murah atau Stabilitas?

stabilitas2.pngpasaRpetani.com – Suatu contoh, harga cabe ditingkat pengepul di Desa pasti lebih murah dibandingkan harga di pasar induk. Demikian pula harga di pasar induk pasti lebih murah dibandingkan harga ditingkat eceran.

Tingkatan harga terjadi karena dari sana pedagang bisa hidup dan mengambil untung. Tidak ada yang mengatur harga kemarin, sekarang ataukah besok. Hanya tuhan yang tahu dan hukum ekonomi yang berlaku.

Ketika pasokan banyak, maka harga akan turun. Sedangkan ketika pasokan kurang, maka harga akan naik. Nah selain pasokan ada faktor lain yang bisa membuat naik turunnya harga, yaitu sebuah alasan!

Jika, harga BBM termasuk salah satu faktor yang bisa menjadi alasan mempengaruhi naik turunnya harga komoditas maka jika harga BBM naik pasti harga komoditas seperti cabe juga akan naik baik ditingkat pasar induk maupun ditingkat pedagang eceran.

Padahal kenyataannya, kenaikan harga BBM tidak otomatis menjadi pemicu harga tinggi ditingkat petani. Seringali pedagang hanya mengandalkan isu untuk menaikkan harga dan meraup untung lebih besar dengan selisih margin antara pembelian ditingkat petani dan harga jual di pasar, tanpa meningkatkan nilai beli ditingkat petani.

Isu kenaikan harga BBM saja bisa menjadi pemicu naik turunnya harga. Setiap kebijakan pemerintah tentu ada pro dan kontra. Hal inilah yang seringkali membuat stabilitas negara menjadi tidak kondusif.

Kenaikan harga BBM merupakan keputusan sulit karena efeknya bisa memicu instabilitas negara. Namun keputusan harus diambil, meski sulit keputusan tersebut harus dijalankan. Tentu dengan konsekuensi pertentangan dibawah.

Setelah kebijakan kenaikan harga berlaku, maka semua harga pun kena imbasnya. Termasuk bagi pemain yang hanya memanfaatkan momentum dan ikut-ikutan latah menaikkan harga.

Gorengan yang biasanya seribu rupiah dapat tiga kemudian hanya dapat dua saja, ukurannya pun tidak besar seperti biasanya. Ongkos angkutan pasti naik secara otomatis. Intinya, semua pasti terkena dampak.

Jika perubahan kenaikan harga tersebut sudah terjadi, mau tidak mau masyarakat harus menerima konsekuensinya. Penyesuaian perlu dilakukan! Ketika kenaikan harga sudah dapat diterima dan tidak ada lagi gejolak, maka bisa dikatakan bahwa negara sudah stabil.

Saat itulah masyarakat tidak mempermasalahkan jumlah gorengan yang didapat, hanya dapat dua pun tak masalah yang penting bisa makan gorengan dengan harga seribu.

Namun kasusnya berbeda jika tiba-tiba pemerintah menurunkan harga BBM, apakah lantas tukang gorengan rela mengembalikan harga seperti sebelumnya? Padahal pembelinya tidak lagi mempermasalahkan jumlahnya. Padahal menjual dengan harga seribu dapat dua, dia akan mendapat untung lebih?

Harapan bahwa dengan harga murah masyarakat bisa lebih sejahtera tidak sepenuhnya benar. Harga murah seringkali bukannya meringankan beban pengeluaran, malah menyusahkan karena kelangkaan barang.

Wajar saja, ada gula pasti ada semut. Harga murah pasti akan diserbu para juragan-juragan kaya yang punya segudang rupiah. Borong BBM murah, kemudian timbun dan jual dengan harga lebih tinggi. Alhasil kelangkaan bisa terjadi dimana-mana.

Sebagai masyarakat awam tentu hanya bisa membuat penyesuaian baru. Biaya-biaya akan muncul seiring perubahan. Entah itu perubahan naik atau turun.

Seharusnya tugas pemerintah dapat menjaga stabilitas yang membuat semua tenang. Tidak perlu banyak penyesuaian yang menyita banyak perhatian, biaya dan waktu.

Stabilitas dengan harga lebih mahal lebih penting dibanding harga murah namun langka. Tentu pemerintah tak perlu menjadi tukang goreng yang setiap waktu kerjanya menggoreng berita atau berlagak menjadi pedagang cabe dipasar!

 

Tinggalkan balasan

Masukan komentar
Masukan nama disini